Jika hitam adalah luka, lebih baik saat malam aku tidur saja menikmati mimpi yang sudah sering aku tinggalkan
Jika hitam adalah luka, aku tak akan sembunyi dibelakang pintu seperti anak-anak bermain petakumpet
Jika hitam adalah luka, mungkin aku tak pernah merasakan hangatnya kopi sebagai teman setiaku hingga gelap memudar tersapu terik
Jika hitam adalah luka, tak ku jadikan dia warna kesukaan selain sejuknya warna biru
Jika diam adalah luka, lain kali aku akan memesan nila goreng ketimbang nila bakar kepada ibu penjual yang kadang-kadang curhat soal dagangannya
Jika diam adalah luka, tak lagi aku memandangi kerlipnya bintang-bintang yang menyunggingkan senyuman
Jika diam adalah luka, ada baiknya aku tak melihat luka, luka yang ternyata selama ini diajarkan dan aku anggap benar tapi ternyata salah
Ditulis dalam mencium kata | Tinggalkan sebuah Komentar »
Menganggap suatu hal biasa saja tanpa berpikir kalau itu sebenarnya peluang untuk mendulang kepercayaan adalah kuncinya, pepatah lama yang bilang “jangan sia-siakan waktu karena dia tak datang dua kali” pun masih sangat manjur.
Aku merasa 2 bulan terakhir ini aktifitasku serasa tak ada makna apalagi manfaat dari buah hasil segala tindak tandukku. Padahal kalo dihitung-hitung waktu melekku banyak ketimbang meremku (baca tidur), dari 24 jam lebih dari 20 jam nya mataku terjaga, aku mencoba mengingat ingat apa yang aku kerjakan sehari-hari terlebih 2 bulan terakhir ini.
Nyari uang?? iyah aku memang nyambi kerja sebagai penjaga warnet, tapi seakan tak ada hasilnya, dan itu juga tak menyita banyak waktu namanya juga nyambi. Aku masih banyak hutang, aku juga telat bayar uang kos-kosan bahkan makan sehari-hari sering dari pacarku, lebih dari untung kalo dikata, entah kenapa dia mau-maunya bayarin saat makan bersama karena hampir setiap hari kita selalu makan bersama paling tidak setiap malam kecuali diakhir pekan selama 2 bulan terakhir ini.
Banyak juga hal yang aku tunda, aku lebih gemar berucap lain waktu dari pada langsung beranjak mengerjakan apa yang itu seharusnya aku kerjakan. list lomba hanya sekedar coretan dalam catatan kecilku. Skripsi tercerai, janji untuk selalu berkunjung ke tempat magangku dulu Syafaat marcomm minimal seminggu sekali terbuai, bahkan sekedar bercengkrama menikmati pemandangan senja di sore hari saja dengan banyak angan pun aku tak sempat lebih tepatnya malas. Padahal itu adalah kegemaranku mengisi pikiran dengan khayalku selain diwaktu malam saat berbintang. Lagi-lagi kata lain waktu lebih aku pilih demi menuruti keenggananku.
Sering juga banyak temen sekedar menyapa lewat chat list yang ujung-ujungnya bertanya kok sekarang jarang maen atau sekedar ngobrol dengannya dikost an dan masih saja otak ini tak mau mengalah memberi kesempatan mengeluarkan kata lain selain kata lain waktu dengan tedeng aling-aling banyak alasan yang sebenarnya tak menyibukkan.
Ketika kekampus hendak mencoba memperlihatkan kepada pembimbing mengenai rancangan kata-kata dengan banyak referensi yang biasa dinamai skripsi tak pernah sekalipun aku ketemu dengan palang pintu ini. Mungkin waktu pun berkata dengan tanpa suara bilang lain waktu aja.
Aku menjadi pemalas yang akut sampai-sampai datang jaga dinet pun sering terlambat bos negur hingga jelak mukanya dalam hati aku yang tak terima karena aku merasa mengerjakan sesuatu lebih ketimbang yang lain saat jaga, berharap aku salah, aku tak layak sedikitpun merasa demikian meski yang lain melakukan hal sama dan merasa biasa saja, meski jaga malam harus lebih tangguh ketimbang jaga siang, meski dengan upah yang sama tapi beda tanggung jawab, meski dalam 4-5 bulan terakhir upahku tak pernah utuh, meski banyak peluh. Tak apa aku percaya saja kalau ini balasan dari kenakalan-kenakalan apa yang aku perbuat dalam hidup ini. Lagian aku juga tak suka bergelut membicarakan soal uang, aku terlalu takut dengan hal-hal sensitif yang akibatnya memperlebar jarak silaturahmi (halah). Banyak kisah cerita mengenai uang dalam pendewasaanku yang bikin aku ga suka selain fungsinya tentunya.
Mungkin masih kurang sedekahku, atau aku sudah sering sedekah cuman kurang pas saja pada siapa aku seharusnya menyisihkan 2.5 % dari pendapatanku selama ini. Mungkin juga ini sebuah balasan karena sering banyak makan yang bukan menjadi hak ku, barang-barang subhat (ga jelas) milik siapa jika ada yang terlihat nelangsa diatas meja entah milik siapa sering aku lahap aja rokok, gorengan, roti, makanan, minuman, uang receh, dll. Meski aku yakin kalo minta akan diberikan begitu saja.
Soal tabiat, ini memang tabiat buruk yang akhirnya menyuburkan prasangka. Bahkan urusan sholat pun aku sering menunda-nunda menghadapNya, seringnya menjelang akhir waktu padahal kurniaNya banyak yang diberikan padaku mengucap istigfarpun mungkin tak cukup kalau saja terus-trusan bilang laen waktu (ntar dulu). Mengeluh? aku tak ingin mengeluh jika apa yang aku lakukan tak berasa apa-apa aku hanya ingin punya kesempatan meski banyak kesempatan aku tanggapi sebelah mata, aku juga tak pantas meminta memutar waktu yang diberikan olehNya, aku juga tak ingin berbagi rasa dan bilang kalau dadaku sakit bukan karena sesak memikirkan persoalan entah apa. Karena ini adalah ulahku sendiri yang terus-terusan menjejalkan kertas berisikan tembakau kemulut nelangsaku apalagi menyalahkan rupiah yang terus menyokongku tak kenal waktu untuk meminangnya.
Disebelah sisi Lain waktu, masih saja aku berpikir lain waktu aku untuk memenangkan perlombaan yang selama kuliah aku tak pernah sekalipun naik podium juara padahal banyak perlombaan iklan yang aku ikuti, lain waktu aku masih saja yakin puisi-puisiku tampil jumawa dikoran-koran harian setelah puluhan kali hanya menumpuk atau malah sudah terurai lebur digudang kantor-kantor redaksi, lain waktu aku bisa meyakinkan kepada orang tua ku kalau jurusan komunikasi lebih baik buatku ketimbang jurusan tarbiyah yang dulu pernah dirujukkan padaku yang menjadikan perbincangan lama antara aku dan orang tuaku. Bahkan sindiran-sindiran ringan hingga saat ini masih saja kita perbincangkan.
Semoga aku bisa memaknai lain waktu ku yang lain dengan peluang dan mewarnainya dengan warna terang kepercayaan. Amin..
Ditulis dalam jurnal | 1 Komentar »
Ditulis dalam logo | Tinggalkan sebuah Komentar »

